Peran Guru "BK" bagi siswa

Setelah lulus SMP sederajat siswa berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi, yakni sekolah menengah atas (SMA) atau sekolah menengah kejuruan (SMK). 

Untuk memilih jurusan yang tepat, peran orang tua, guru BK dan sekolah sangatlah penting bagi calon siswa untuk memilih sekolah umum SMA atau SMK, kita mengetahui jika siswa di SMA dan lulusannya di rekomendasikan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi dengan alasan di SMA tidak dibekali keahlian  yang memadai untuk menghadapi dunia kerja, ini berbeda dengan Visi SMK yang membekali siswanya untuk memasuki dunia karir dan kepengusahaan (entrepreneurship). Jadi akan nampak ironis jika masih ada lulusan yang bingung setelah mereka lulus nanti.

Hal ironis sedemikian memang sudah sering terjadi pada para lulusan SMA dan SMK  sederajat, padahal proses pendidikan di sekolah merupakan proses pencarian jati diri dan penelusuran  bakat dan minat bagi siswa, khususnya pelajaran bimbingan konseling (BK) yang memberikan pengarahan secara sistematis. secara garis besar sekolah wajib untuk memberikan 3 (tiga) step pembinaan, yakni:
  1. Kelas X SMA/K atau MA, pada jenjang ini siswa diajarkan oleh guru BK mengenai konsep diri, mengenal eksistensi personal / individu. Siswa diharapkan mampu mengenal diri sendiri. konsep diri merupakan hal yang sangat urgent dan fundamental, jika siswa belum mengenal diri pada jenjang ini maka siswa akan sulit mengikuti perkembangan tingkat selanjutnya.
  2. Di kelas XI SMA/K atau MA, siswa dibekali oleh guru mengenai peran individu bagi lingkungan seperti lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat yang lebih luas, siswa diharapkan sudah mampu berperan dalam suatu masyarakat, seperti mampu menempatkan diri dalam kegiatan-kegiatan sosial, pengajian, karang taruna, dah banyak sekali kegiatan yang dapat dilakukan oleh siswa 
  3. Pada jenjang akhir (XII) siswa SMA/K atau MA, diarahkan untuk menelusuri serta mengeksplorasi bakat dan minat, pengarahan bagi siswa untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi,  diarahkan untuk berkarir dan berwira-usaha.
Ketiga step atau jenjang tersebut diatas akan menggambarkan keberhasilan sekolah atau kegagalan sekolah dalam membina siswa selama proses belajar. Siswa tidak ada lagi yang bingung  untuk meneruskan kuliah, kerja (berkarir dan usaha mandiri) setelah lulus.   hal itu mencerminkan keseriusan institusi sekolah dalam menjalankan amanah pendidikan dari orang-tua / wali yang menitipkan anak mereka kepada sekolah. Bagi sekolah yang menjalankan proses tiga jenjang diatas dipastikan akan mampu melahirkan output yang mengharumkan nama institusi / almamater, sehingga sekolah tidak seharusnya untuk ketakutan untuk mendapatkan peminat untuk belajar pada sekolah dan ketakutan untuk kehilangan anak didik (siswa).