Guru oh guru (Kehancuran generasi)

Serem, itulah yang saya pikirkan tentang judul postingan ini ...
"Kehancuran generasi" sepertinya berlebihan atawa "super duper lebay hehe". tapi... saya sadar kok dengan konten yang saya tulis ini, terlepas benar atau salah, yah yang pasti konten yang ada di blog jelek ini secara keseluruhan adalah sisi kegelisahan saya yang sangat subjektif loh. jadi kebenaran itu tidaklah mutlak, siapa saja boleh protes, boleh tersinggung, boleh marah-marah, boleh ngamuk-ngamuk juga boleh bunuh diri, hehe

Ok, "kembali ke lolipop (ala tukul rahwana)" 

Kenapa harus guru yang disalahkan atas kehancuran generasi yang otomatis menjadi sebuah kehancuran negeri? kenapa tidak pejabat saja yang sudah jelas-jelas korupsi dengan dalih komisi?

Jawabannya saya kira sangat-sangat sederhana!, 
  1. (Kenaikan Tingkat/Kelas) Guru adalah individu yang paling banyak menghabiskan waktu bersama perkembangan anak usia sekolah (siswa) selain orang tua. coba hitung dari TK, SD/MI, MTs/SMP dan SMA/K - MA. loh, salahnya apa? kesalahannya mana?. Kesalahannya adalah guru tidak mau bertanggung-jawab atas nasib siswa untuk kedepan alias setelah mereka lulus sekolah, kenapa begitu? ya iyalah guru membiarkan siswanya naik kelas atau lulus sekolah sedangkan siswa tersebut yang tidak layak naik kelas atau lulus (siswa belajar untuk  tidak menghargai intelektualitas). padahal siswa yang tahap paling dasar tidak menguasai materi pada bidang studi apapun, maka mereka akan kesulitan untuk mendapatkan materi lanjutan yang memiliki tingkat kerumitan yang lebih lagi, ya iyalah pelajaran kelas satu gak bisa kok mau bisa dilanjutin di kelas dua (hampir gak mungkin), hal ini banyak terjadi pada sekolah-sekolah di negeri ini. 
  2. (Mendidik dan mengajar) Guru hanya mengajar tapi tidak mendidik, apa bedanya? kalo mengajar siswa hanya diajar seperti layaknya siswa les privat, dengan mengajar guru hanya memberikan materi saja, tidak perdulikan tingkah laku siswa mau seperti apa, tidak perdulikan moral siswa yang ada hanya transfer ilmu semata. Hal ini berbeda dengan mendidik, mendidik merupakan proses yang lebih rumit lagi, mendidik tidak hanya memberikan materi semata, akan tetapi guru yang mendidik akan memperhatikan tingkah laku siswa agar lebih baik lagi dalam menghadapi kehidupan yang nyata, jadi dah tau kan bedanya?. jadi hasilnya akan berbeda siswa yang hanya diajar saja dengan siswa yang di didik  dengan baik agar  menjadi kaum intelektual yang memiliki karakter yang baik sebagaimana guru / pendidik inginkan.
  3. (Guru tidak bisa berenang kok ngajar berenang ) "Yang terakhir ini lebih menyakitkan" guru berperan dalam dunia pendidikan sebagai "guru-guruan", lah apa lagi itu? ini adalah hasil dari obrolan saya dengan temen-temen hang-out dan beberapa siswa saya, dari obrolan singkat tersebut terpetik sebuah isu, yaitu guru tidak "professional". kata professional dalam tanda kutip, guru saat ini mengajarkan pelajaran "moral" sedangkan sosok guru tersebut tidak bermoral!, guru bahasa mengajarkan bahasa namun tidak mengerti apa itu bahasa (tidak menguasai), guru mengajarkan berenang tapi gurunya sendiri tidak bisa berenang dan masih banyak guru yang mengajarkan  sesuatu yang mereka sendiri tidak menguasai. wah wah kok begitu?. Ok, simpelnya gini: seorang guru mengajarkan ilmu ekonomi, kalau dia adalah seorang "ekonom" dipastikan dia tidak akan pernah berada disekolah (emang ada ekonom handal ngajar?), guru "kewirausahaan" adalah guru yang mengajarkan tentang usaha mandiri (kepengusahaan), hampir tidak ada "pengusaha" yang sempet ngajar di sekolah ;), guru "Audio visual / perfilman" mana ada seorang penulis skrip atau sutradara handal akan punya waktu untuk mengajar, guru "web design" mengajar web design dipastikan tidak mampu mendesign web, karena jika dia ahli dalam bidang tersebut mana mungkin jadi pengajar di sekolah dengan gaji yang ratusan kali lipat nominalnya ;). Jadi kesimpulannya "guru" pada umumnya hampir tidak ada yang memiliki kemampuan dibidang yang diajarkan!. jadi guru bisa loh dikatakan adalah orang-orang yang gagal dan hampir tidak memiliki kemampuan sama sekali sehingga profesi guru menjadi pelarian saja daripada jadi pengangguran.
Gimana jelas, kan? ternyata guru adalah orang yang bertanggung jawab atas keterpurukan di negeri ini, terlepas guru tersebut sudah PNS atau masih honorer, tapi dari tulisan diatas masih banyak kok guru yang beneran guru dan bukan "guru-guruan", yaitu guru yang mendedikasikan hidupnya untuk kemajuan negeri, tapi saya yakin guru beneran itu sangat sedikit sekali.

Akhir kata, trims telah mengunjungi blog jelek ini, saya ogah minta maaf sama sahabat yang berkunjung, karena saya cuma minta saran yang membangun bukan kritik , untuk berkembangnya intelektual di negeri ini.