Mawas Diri = Tahu Diri

Tajur 27 Maret 2011- "Pakar komunikasi" menyatakan istilah dari "Mawas Diri" meninjau kedalam hati nurani kita untuk mengetahui benar atau tidak suatu tindakan. nah secara gamblang kita akan tahu apa itu mawas diri sebagai tindakan untuk bersikap "Tahu diri", pernyataan yang menimbulkan pertanyaan sederhana dan akan menghasilkan jawaban sederhana pula, Tahu dirikah anda? 

Untuk menjawab pertanyaan diatas, siapapun tidak akan mampu menjawab pertanyaan tersebut secara lisan (orally), kenapa?

Jawaban yang paling tepat adalah attitude serta sikap dalam keseharian yang akan menjadi jawabannya,  sikap kita akan merefleksikan apakah kita adalah orang yang "tahu diri" atau tidak. contoh sederhana, ketika seseorang diberikan sesuatu yang berguna oleh orang lain, namun orang yang diberi tidak menghargai apa yang telah dilakukan/diberikan kepadanya, padahal hal yang diberikan merupakan hal yang sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup, bagi masa depan yang lebih baik dan banyak hal yang tidak dapat dibalas dengan  materi. Penghargaan dan sikap yang tidak diberikan secara layak kepada orang tua yang telah memberikan sesuatu yang sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup, pendidikan yang layak bahkan masa depan serta harapan yang besar.

Sekarang apakah kita atau anda sudah menghargai dan membalas kebaikan semua orang, kepada orang tua, kepada guru yang berperan sebagai second parents atau orang tua kedua setelah keluarga. apakah kita menghargai sahabat, teman sejawat serta partner kerja. padahal mereka semua telah secara tidak langsung membantu kita untuk menjadikan kita hidup lebih baik!. hal sedemikian mengingatkan kita akan pelajaran moral dan agama pada sekolah-sekolah yang pernah kita lalui atau sedang anda jalani saat ini.

Tulisan ini, sebenarnya adalah refleksi kehidupan saya pribadi, ketka melihat, menghadapi orang-orang yang tidak tahu diri, melihat seorang anak yang jauh dari kata "Berbakti" kepada orang tua, seorang anak yang sering bolos dan berbohong kepada orang tuanya, padahal kehidupan orang tuanya maaf "Miskin" yang harus berjuang mati-matian untuk menjadikan anaknya dapat tetap sekolah, tunggakan di sekolah menumpuk, untiuk menutupi kehidupan sehari-hari pun harus berhutang kesana-kemari. bayangkan anak-anak seperti ini masih bersikap sombong selayaknya memiliki beberapa villa dan koleksi mobil BMW!!!. 

Selain daripada itu, tulisan ini merupakan refleksi bagaimana tidak tahu dirinya seseorang kepada partner-kerja, yang telah membantu suatu kegiatan, pengembangan organisasi, bahkan kehidupan rumah tangga terkadang sampai masalah dapur yang membutuhkan bantuan partner kerja yang lain, namun karena hanya demi mempertahankan prestise, ego sentris dan image semata, ia berani untuk menjadikan sahabat dan partner kerja menjadi musuh ketimbang sekedar teman kerja. hal sedemikian pun terjadi pada pimpinan yang jauh dari kata "mawas diri" bagaimana perjuangan pegawai atau anak-buahnya untuk kemajuan organisasi yang ia pimpin namun apa balasan yang ia berikan?, (Jauh dari harapan bung!)

Terlupakan sudah moral, agama dan etika hanya untuk memperjuangkan ego sentris, mulai sekarang buatlah catatan kecil, "apakah anda mawas diri?"